Memuat...

Silakan tunggu sebentar

Pelaksanaan CKG anak sekolah di SMA Negeri 5 Kota Ternate

•Pelaksanaan CKG anak sekolah di SMA Negeri 5 Kota Ternate

Potret Kesehatan Maluku Utara September 2026: CKG Meluas, Posyandu Menguat, Tantangan Penyakit dan Sanitasi Masih Berlanjut

Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Oleh Riskal Muslim • 27 Sep 2026

SOFIFI, 28 September 2026 — Perkembangan pembangunan kesehatan di Provinsi Maluku Utara sepanjang September 2026 menunjukkan dinamika yang cukup kuat. Berbagai program prioritas terus diperkuat, mulai dari Pemeriksaan Kesehatan Gratis (CKG), transformasi Posyandu, pengendalian penyakit menular, pelayanan kesehatan ibu dan anak, hingga peningkatan sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa agenda pembangunan kesehatan Maluku Utara tidak hanya diarahkan pada peningkatan cakupan pelayanan, tetapi juga semakin menekankan aspek mutu layanan, pemerataan akses, tindak lanjut hasil pemeriksaan, serta perubahan perilaku masyarakat.

Salah satu agenda yang mendapat perhatian penting pada September 2026 adalah penguatan pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG), khususnya CKG Sekolah. Melalui kegiatan Coaching Clinic Pelaksanaan dan Tatalaksana CKG Sekolah pada 15–18 September 2026, dilakukan penguatan kapasitas pelaksana sekaligus penajaman tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan kesehatan peserta didik.

Pelaksanaan CKG Sekolah memberikan gambaran bahwa pemeriksaan kesehatan bukan sekadar kegiatan skrining, tetapi merupakan pintu masuk untuk menemukan berbagai masalah kesehatan sejak dini. Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah karies gigi yang ditemukan pada 40,9 persen anak yang diperiksa, sementara anemia juga termasuk dalam lima besar masalah kesehatan yang ditemukan.

Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya memastikan bahwa hasil CKG tidak berhenti pada pencatatan dan pelaporan. Hasil pemeriksaan perlu diterjemahkan menjadi intervensi, edukasi, pengobatan, rujukan, maupun pemantauan lanjutan sesuai kondisi masing-masing sasaran.

Posyandu Aktif Meningkat, Transformasi Siklus Hidup Terus Didorong

Di sisi lain, transformasi pelayanan kesehatan primer melalui Posyandu juga menunjukkan perkembangan positif. Hingga September 2026, capaian Posyandu Aktif di Maluku Utara mencapai 92,3 persen atau 1.476 dari 1.600 Posyandu, melampaui target sebesar 85 persen.

Capaian tersebut menjadi modal penting dalam memperkuat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Namun demikian, penguatan tidak berhenti pada status aktif Posyandu. Transformasi menuju Posyandu Siklus Hidup masih memerlukan perhatian karena capaian pada September 2026 tercatat sebesar 77,8 persen dan masih terdapat kesenjangan antarwilayah.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan transformasi pelayanan primer tidak hanya diukur dari jumlah fasilitas atau Posyandu yang aktif, tetapi juga dari kemampuan memberikan pelayanan yang terintegrasi bagi seluruh kelompok usia, mulai dari ibu hamil, bayi dan balita, anak usia sekolah, remaja, usia produktif hingga lanjut usia.

TBC dan Kusta Masih Menjadi Perhatian

Pada sektor pengendalian penyakit menular, Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu agenda penting kesehatan masyarakat Maluku Utara. Data yang tersedia pada September menunjukkan capaian penemuan kasus TBC provinsi berada pada angka sekitar 82 persen, dengan keberhasilan pengobatan sebesar 75 persen.

Namun, capaian provinsi tersebut masih menyimpan variasi antarwilayah. Kondisi geografis Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam penguatan penemuan kasus, kesinambungan pengobatan, pelacakan kontak, serta akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan.

Selain TBC, kusta juga menjadi perhatian. Kasus kusta pada anak masih menunjukkan angka yang perlu diwaspadai. Tingginya proporsi kasus pada anak menjadi indikator penting dalam penguatan deteksi dini dan pemutusan rantai penularan di masyarakat.

Pada saat yang sama, upaya deteksi dini menunjukkan perkembangan positif. Pada Triwulan I 2026, sebagian besar kasus baru kusta ditemukan sebelum mengalami disabilitas. Kondisi ini menunjukkan pentingnya mempertahankan dan memperluas kegiatan penemuan kasus secara aktif di tingkat masyarakat.

Sanitasi Masih Menjadi Pekerjaan Rumah

Persoalan kesehatan masyarakat di Maluku Utara juga tidak dapat dilepaskan dari faktor lingkungan. Salah satu indikator yang masih membutuhkan percepatan adalah Open Defecation Free (ODF).

Hingga September 2026, capaian desa/kelurahan ODF tercatat sekitar 42 persen, masih di bawah target 55 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sanitasi dan perubahan perilaku masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Peningkatan capaian ODF membutuhkan kolaborasi lintas sektor karena persoalan sanitasi tidak hanya berkaitan dengan sektor kesehatan, tetapi juga infrastruktur, air bersih, lingkungan, pemerintahan desa, pendidikan, serta pemberdayaan masyarakat.

Karena itu, pendekatan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat perlu terus diperkuat agar pembangunan sarana sanitasi berjalan beriringan dengan perubahan perilaku dan kesadaran masyarakat.

Memperkuat Kesehatan Ibu dan Anak serta Sistem Rujukan

Penguatan pelayanan kesehatan ibu dan anak juga tetap menjadi bagian penting dari agenda kesehatan Maluku Utara. Penguatan pelayanan maternal dan neonatal, pemantauan tumbuh kembang anak, pemberian ASI eksklusif, serta sistem rujukan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sepanjang siklus kehidupan.

Penguatan jejaring pelayanan dan rujukan, termasuk kerja sama antara fasilitas kesehatan daerah dan rumah sakit rujukan, menjadi penting mengingat karakteristik geografis Maluku Utara yang terdiri atas wilayah kepulauan dengan tantangan akses dan transportasi yang berbeda-beda.

Dari Cakupan Menuju Dampak

Berbagai perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan kesehatan Maluku Utara memasuki fase yang semakin menekankan kualitas dan dampak pelayanan.

Peningkatan cakupan CKG perlu diikuti tindak lanjut hasil pemeriksaan. Peningkatan jumlah Posyandu aktif perlu diikuti peningkatan kualitas pelayanan Posyandu Siklus Hidup. Pengendalian TBC dan kusta perlu disertai penguatan penemuan kasus serta keberhasilan pengobatan. Sementara itu, peningkatan sanitasi membutuhkan perubahan perilaku dan kolaborasi lintas sektor.

Dengan karakteristik geografis Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan, pendekatan pembangunan kesehatan juga perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan setiap wilayah. Pemerataan akses, distribusi tenaga kesehatan, ketersediaan sarana dan prasarana, sistem rujukan, serta pemanfaatan data menjadi faktor penting dalam memastikan masyarakat di seluruh kabupaten/kota memperoleh pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Memperkuat Kolaborasi untuk Percepatan Pembangunan Kesehatan

Memasuki periode berikutnya, Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara terus mendorong penguatan kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, Puskesmas, rumah sakit, pemerintah desa, kader kesehatan, dunia pendidikan, organisasi masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Kolaborasi tersebut diperlukan agar berbagai program kesehatan tidak berjalan secara terpisah, tetapi saling terhubung dalam satu ekosistem pelayanan kesehatan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

September 2026 dengan demikian memberikan satu pesan penting: kemajuan pembangunan kesehatan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak pelayanan diberikan, tetapi juga oleh seberapa jauh pelayanan tersebut mampu menemukan masalah lebih dini, menjangkau masyarakat secara merata, menghasilkan tindak lanjut, dan memberikan dampak nyata terhadap derajat kesehatan masyarakat.

Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara akan terus memperkuat transformasi pelayanan kesehatan dengan mengedepankan pendekatan promotif dan preventif, penguatan pelayanan primer, pemanfaatan data, kolaborasi lintas sektor, serta inovasi yang sesuai dengan karakteristik wilayah kepulauan.