•Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara dr. Julys Giscard Kroons
Kadinkes Malut Tegaskan Pembudayaan PHBS dan GERMAS sebagai Strategi Utama Membangun Masyarakat Sehat
Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan MasyarakatOleh Riskal Muslim • 15 Jul 2026
Ternate, 15 Juli 2026 – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara, dr. Julys Giscard Kroons, menegaskan bahwa Pembudayaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan strategi utama dalam membangun masyarakat Maluku Utara yang sehat, mandiri, dan produktif. Penegasan tersebut disampaikan saat memaparkan materi "Kebijakan Pembudayaan PHBS dan GERMAS Tingkat Provinsi Maluku Utara" pada Pertemuan Koordinasi Pembudayaan Hidup Sehat Tingkat Provins Maluku Utara Tahun 2026 yang berlangsung di Hotel Batik Kota Ternate, Rabu (15/7).
Dalam paparannya, dr. Giscard menjelaskan bahwa pembangunan kesehatan saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain masih adanya penyakit menular, Provinsi Maluku Utara juga mengalami peningkatan kasus penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung. Kondisi tersebut diperberat dengan karakteristik Maluku Utara sebagai provinsi kepulauan yang terdiri dari 395 pulau, sehingga pemerataan akses pelayanan kesehatan menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, penguatan upaya promotif dan preventif berbasis masyarakat menjadi pilihan strategis yang harus terus diperkuat.
Menurut Kepala Dinas, sebagian besar masalah kesehatan sebenarnya dipengaruhi oleh perilaku dan lingkungan. Oleh sebab itu, perubahan perilaku masyarakat melalui pembudayaan hidup sehat harus menjadi prioritas seluruh pemangku kepentingan.
"Pembangunan kesehatan tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan kuratif. Kita harus mampu membangun kesadaran masyarakat agar hidup sehat menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari," tegas dr. Giscardalam paparannya.
Beliau menjelaskan bahwa implementasi PHBS dan GERMAS di Maluku Utara memiliki landasan hukum yang kuat, mulai dari Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, Peraturan Menteri Kesehatan mengenai PHBS, hingga Peraturan Gubernur Maluku Utara sebagai payung koordinasi lintas sektor di tingkat daerah. Regulasi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk memperkuat kebijakan promotif dan preventif secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas juga mengingatkan bahwa PHBS merupakan sekumpulan perilaku yang dilakukan atas dasar kesadaran sehingga individu, keluarga, dan masyarakat mampu menjaga kesehatannya secara mandiri. Penerapannya dilakukan di berbagai tatanan kehidupan, mulai dari rumah tangga, sekolah, tempat kerja, fasilitas pelayanan kesehatan, hingga tempat-tempat umum. Sementara itu, GERMAS merupakan gerakan bersama seluruh komponen bangsa yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pembiasaan perilaku sehat dengan menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Pemerintah Provinsi Maluku Utara menetapkan sejumlah arah kebijakan strategis, antara lain menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular maupun penyakit tidak menular, meningkatkan produktivitas masyarakat melalui perbaikan status gizi dan pola hidup sehat, membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat keluarga dan komunitas, mengurangi beban pembiayaan kesehatan melalui upaya pencegahan, memperkecil kesenjangan status kesehatan antarwilayah, serta memperkuat peran aktif masyarakat dan lintas sektor dalam pembangunan kesehatan.
Lebih lanjut, dr. Giscardmenjelaskan bahwa implementasi GERMAS di Provinsi Maluku Utara difokuskan pada lima klaster utama, yaitu peningkatan aktivitas fisik, peningkatan edukasi hidup sehat, peningkatan kualitas gizi dan pangan sehat, peningkatan pencegahan serta deteksi dini penyakit, dan peningkatan kualitas lingkungan. Kelima klaster tersebut menjadi acuan dalam penyusunan rencana aksi GERMAS di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota.
Sementara itu, untuk mendorong penerapan PHBS di tingkat keluarga, pemerintah terus mengoptimalkan sepuluh indikator utama, di antaranya persalinan ditolong tenaga kesehatan, pemberian ASI eksklusif, penimbangan balita setiap bulan, penggunaan air bersih, kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun, penggunaan jamban sehat, pemberantasan jentik nyamuk, konsumsi buah dan sayur setiap hari, aktivitas fisik rutin, serta tidak merokok di dalam rumah. Menurut Kepala Dinas, indikator-indikator tersebut merupakan fondasi dalam membangun keluarga sehat.
Sebagai daerah kepulauan, Maluku Utara memiliki tantangan tersendiri dalam pelaksanaan program pembudayaan hidup sehat. Sebaran wilayah yang luas, keterbatasan transportasi, serta belum meratanya akses informasi kesehatan menjadi kendala yang harus diatasi melalui strategi yang adaptif. Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Maluku Utara mengembangkan pendekatan berbasis kewilayahan dengan memperkuat peran kader Posyandu, tokoh masyarakat, pemerintah desa, serta pelayanan kesehatan bergerak untuk menjangkau masyarakat di pulau-pulau kecil dan wilayah terpencil.
Selain itu, Pemerintah Provinsi juga terus memperkuat advokasi, komunikasi, informasi dan edukasi (KIE), membangun kemitraan dengan TNI, Polri, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi kemasyarakatan, serta media massa, sekaligus meningkatkan sistem monitoring dan evaluasi capaian indikator PHBS dan GERMAS secara berkala. Pendekatan kolaboratif atau Pentahelix diyakini menjadi kunci keberhasilan pembudayaan hidup sehat di Maluku Utara.
Dalam paparannya, Kepala Dinas juga mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diselesaikan, antara lain belum meratanya implementasi PHBS di seluruh kabupaten/kota, perubahan perilaku masyarakat yang membutuhkan waktu, sistem pelaporan yang belum seragam, koordinasi lintas sektor yang belum optimal, keterbatasan tenaga promosi kesehatan, hingga jangkauan media komunikasi yang masih terbatas di wilayah kepulauan. Meskipun demikian, beliau optimistis berbagai tantangan tersebut dapat diatasi melalui penguatan koordinasi dan komitmen bersama seluruh pihak.
Mengakhiri paparannya, dr. Giscard mengajak seluruh pemerintah kabupaten/kota, perangkat daerah, organisasi profesi, dunia usaha, akademisi, media, serta seluruh lapisan masyarakat untuk terus memperkuat kolaborasi dalam membudayakan PHBS dan GERMAS.
"Keberhasilan pembangunan kesehatan bukan hanya diukur dari banyaknya masyarakat yang berobat, tetapi dari semakin banyak masyarakat yang mampu menjaga kesehatannya sendiri. Mari kita jadikan PHBS dan GERMAS sebagai budaya hidup masyarakat Maluku Utara demi mewujudkan daerah yang sehat, mandiri, produktif, dan berdaya saing," pungkasnya.
Melalui penguatan kebijakan, kolaborasi lintas sektor, serta pemberdayaan masyarakat hingga ke wilayah kepulauan, Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara optimistis pembudayaan hidup sehat akan semakin mengakar di tengah masyarakat dan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Maluku Utara Sehat serta mendukung pencapaian Indonesia Emas 2045