•edukasi STOP BABS
GERMAS Maluku Utara Hadapi Pekerjaan Rumah Sanitasi: Capaian ODF Baru 42 Persen
Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan MasyarakatOleh Riskal Muslim • 06 Sep 2026
Perubahan perilaku dan penguatan sanitasi berbasis masyarakat menjadi kunci mempercepat Maluku Utara menuju lingkungan sehat
SOFIFI – Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di Provinsi Maluku Utara menunjukkan sejumlah kemajuan sepanjang 2025. Namun di balik berbagai capaian tersebut, masih terdapat pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian serius: sanitasi dan perilaku hidup sehat masyarakat.
Salah satu indikator yang masih memerlukan percepatan adalah capaian Open Defecation Free (ODF) atau kondisi bebas buang air besar sembarangan.
Berdasarkan Laporan Pelaksanaan GERMAS Provinsi Maluku Utara Tahun 2025, cakupan desa/kelurahan yang mencapai status ODF baru berada pada angka 42 persen, sementara target yang ditetapkan sebesar 55 persen.
Artinya, masih terdapat kesenjangan 13 poin persentase yang harus dikejar.
Angka tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan kesehatan tidak cukup hanya dengan meningkatkan akses terhadap pelayanan medis. Lingkungan tempat masyarakat tinggal, kualitas sanitasi, ketersediaan jamban sehat dan perubahan perilaku menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari agenda kesehatan masyarakat.
Sanitasi Bukan Sekadar Infrastruktur
Persoalan ODF tidak semata-mata berkaitan dengan ada atau tidaknya jamban.
Dalam konteks GERMAS, sanitasi merupakan bagian dari upaya membangun perilaku hidup bersih dan sehat sekaligus menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan masyarakat.
Laporan GERMAS Maluku Utara mengidentifikasi bahwa karakteristik wilayah kepulauan menjadi salah satu tantangan dalam pemerataan program. Kesenjangan infrastruktur dasar dan kualitas lingkungan antardaerah juga masih menjadi persoalan yang perlu ditangani melalui intervensi yang lebih konvergen.
Dengan kondisi geografis Maluku Utara yang tersebar di banyak pulau, pembangunan sanitasi menghadapi tantangan yang berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Karena itu, pendekatan yang seragam belum tentu cukup.
Desa di pulau terpencil membutuhkan strategi yang berbeda dengan kawasan perkotaan.
Ketersediaan sarana sanitasi, akses air, kondisi geografis, kemampuan ekonomi masyarakat, hingga pola perilaku dan budaya lokal perlu diperhitungkan secara bersamaan.
Dari Pemicuan hingga Perubahan Perilaku
Salah satu pelajaran penting datang dari Pulau Morotai.
Di wilayah ini, pendekatan sanitasi berbasis masyarakat diterapkan melalui pemicuan partisipatif Community-Led Total Sanitation (CLTS) yang kemudian mendorong lahirnya deklarasi ODF di Desa Posi-Posi Rao.
Laporan mencatat bahwa deklarasi tersebut merupakan hasil dari proses yang melibatkan pemicuan partisipatif, pendampingan tenaga sanitasi, serta komitmen masyarakat untuk membangun dan menggunakan jamban sehat.
Pendekatan tersebut penting karena memperlihatkan bahwa perubahan sanitasi tidak selalu harus dimulai dari pembangunan fisik.
Perubahan dapat dimulai dari kesadaran masyarakat.
Ketika masyarakat memahami risiko buang air besar sembarangan dan memiliki komitmen bersama untuk mengubah perilaku, pembangunan jamban sehat menjadi bagian dari gerakan komunitas, bukan semata-mata proyek pemerintah.
“Poka Poka”, Ketika Kearifan Lokal Menjadi Kekuatan
Upaya mempercepat sanitasi juga dikembangkan melalui pendekatan yang dekat dengan masyarakat.
Di Pulau Morotai, inovasi pemicuan STBM “Poka Poka” menjadi salah satu praktik baik GERMAS yang memanfaatkan pendekatan kearifan lokal.
Dalam laporan GERMAS, inovasi tersebut dikaitkan dengan penurunan kasus diare balita sebesar 73 persen, dari 15 menjadi 4 kasus per bulan, dan dinilai memiliki potensi replikasi tinggi dalam konteks wilayah kepulauan.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa sanitasi memiliki hubungan yang erat dengan upaya pencegahan penyakit berbasis lingkungan.
Lebih jauh, pendekatan seperti “Poka Poka” memperlihatkan bahwa pesan kesehatan tidak selalu harus disampaikan dengan bahasa yang formal dan teknokratis.
Ketika pesan kesehatan menggunakan pendekatan yang dipahami masyarakat, peluang terjadinya perubahan perilaku menjadi lebih besar.
42 Persen Bukan Alasan untuk Berhenti
Capaian ODF sebesar 42 persen tentu belum memenuhi target 55 persen. Namun angka tersebut juga tidak semestinya dibaca semata-mata sebagai kegagalan.
Sebaliknya, angka tersebut harus menjadi baseline evaluasi untuk menentukan langkah percepatan berikutnya.
Sebab, secara keseluruhan, implementasi GERMAS Maluku Utara telah menunjukkan perkembangan pada sejumlah indikator. Peningkatan pengetahuan gizi remaja mencapai 39 persen, melampaui target 35 persen. Cakupan Posyandu aktif mencapai 76 persen dari target 80 persen, sedangkan cakupan skrining kesehatan ASN mencapai 85 persen dari target 90 persen.
Di sisi lain, rata-rata implementasi enam pilar GERMAS masih berada pada skor 78 dari target 85. Ini menunjukkan bahwa penguatan GERMAS masih membutuhkan kerja bersama dan konsistensi lintas sektor.
Dengan kata lain, GERMAS sudah bergerak, tetapi belum boleh berhenti.
Sanitasi Harus Menjadi Gerakan Bersama
Percepatan ODF tidak mungkin hanya dibebankan kepada Dinas Kesehatan.
Pembangunan sanitasi menyentuh berbagai sektor: infrastruktur dasar, air minum, lingkungan, pemerintahan desa, pendidikan, pemberdayaan masyarakat hingga perubahan perilaku.
Karena itu, laporan GERMAS menekankan perlunya pendekatan konvergen lintas sektor, terutama dalam menghadapi kesenjangan infrastruktur dan kualitas lingkungan antarwilayah.
Dinas Kesehatan memiliki peran penting dalam aspek promotif, preventif, edukasi dan pendampingan kesehatan. Namun keberhasilan ODF membutuhkan dukungan berbagai pihak agar masyarakat memiliki akses, sarana, lingkungan dan dukungan sosial yang memungkinkan mereka menjalankan perilaku hidup sehat.
Terlebih bagi Maluku Utara yang memiliki karakter geografis kepulauan, koordinasi lintas sektor menjadi semakin penting.
Dari 42 Persen Menuju 100 Persen
Tantangan ke depan bukan sekadar mengejar angka 55 persen.
Target akhirnya adalah bagaimana desa dan kelurahan di Maluku Utara dapat bergerak menuju lingkungan yang benar-benar sehat, bebas dari praktik buang air besar sembarangan dan mampu mempertahankan perilaku tersebut secara berkelanjutan.
Pengalaman Morotai menunjukkan bahwa hal tersebut bukan sesuatu yang mustahil.
Pemicuan masyarakat, pendampingan tenaga sanitasi, kepemimpinan lokal, kearifan lokal dan komitmen warga dapat menjadi kombinasi penting untuk menghasilkan perubahan.
Karena itu, capaian ODF 42 persen harus dibaca sebagai alarm sekaligus peluang.
Alarm bahwa masih ada pekerjaan besar yang harus diselesaikan.
Sekaligus peluang untuk memperluas praktik baik dari desa-desa yang telah berhasil kepada wilayah lain yang masih menghadapi persoalan sanitasi.
GERMAS Bukan Hanya Tentang Sehatnya Tubuh, tetapi Juga Sehatnya Lingkungan
GERMAS pada akhirnya bukan hanya tentang olahraga, makan bergizi atau pemeriksaan kesehatan.
GERMAS juga tentang air yang aman, jamban yang sehat, lingkungan yang bersih dan masyarakat yang memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan bersama.
Maluku Utara telah memiliki fondasi regulasi, program dan berbagai inovasi daerah. Tantangan berikutnya adalah memastikan seluruh fondasi tersebut menghasilkan perubahan nyata sampai ke tingkat rumah tangga dan desa