Memuat...

Silakan tunggu sebentar

Inovasi Germas di Maluku Utara berbasis kepulauan

Inovasi Germas di Maluku Utara berbasis kepulauan

Dari WhatsApp Bot hingga USG Keliling, Inovasi GERMAS Maluku Utara Tembus Tantangan Kepulauan

Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

Oleh Riskal Muslim 06 Sep 2026

Teknologi, kearifan lokal, hingga pemberdayaan anak muda menjadi kekuatan baru Gerakan Masyarakat Hidup Sehat di Maluku Utara

SOFIFI – Laut dan jarak antarpulau tidak boleh menjadi alasan masyarakat Maluku Utara tertinggal dalam memperoleh akses terhadap informasi maupun layanan kesehatan. Prinsip inilah yang mulai diterjemahkan ke dalam berbagai inovasi Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) di kabupaten/kota se-Provinsi Maluku Utara.

Bukan hanya mengandalkan kampanye dan kegiatan seremonial, implementasi GERMAS sepanjang 2025 menunjukkan munculnya berbagai pendekatan kreatif yang menyesuaikan diri dengan karakteristik daerah. Mulai dari WhatsApp Bot untuk memantau konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), USG keliling yang mengikuti jadwal kapal antarpulau, pangan lokal untuk perbaikan gizi, hingga pemberdayaan Pramuka sebagai Duta Stunting.

Berbagai inovasi tersebut tercatat dalam Laporan Pelaksanaan GERMAS Provinsi Maluku Utara Tahun 2025 sebagai praktik baik yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan direplikasi di daerah lain.

Ketika Teknologi Menjawab Jarak

Salah satu inovasi yang menarik perhatian datang dari Kabupaten Halmahera Barat melalui WhatsApp Bot “GERMAS Halbar”.

Teknologi sederhana ini digunakan untuk melakukan monitoring kepatuhan konsumsi TTD pada siswi secara real-time. Kehadiran sistem tersebut memungkinkan pemantauan dilakukan secara lebih cepat tanpa harus bergantung sepenuhnya pada mekanisme pelaporan manual.

Yang menarik, inovasi ini tidak membutuhkan biaya operasional besar. Laporan GERMAS mencatat WhatsApp Bot GERMAS Halbar memiliki biaya operasional minimal dan dinilai memiliki potensi replikasi sangat tinggi.

Inovasi digital tersebut berjalan beriringan dengan pemanfaatan pangan lokal. Halmahera Barat mengembangkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) menggunakan daun kelor dan pisang batu untuk 100 balita berisiko stunting.

Penggunaan bahan pangan lokal tersebut dilaporkan mampu menurunkan biaya produksi sekitar 50 persen dibandingkan PMT komersial, sekaligus mendukung perekonomian petani lokal.

Dengan demikian, GERMAS tidak berhenti pada pesan “makan makanan bergizi”, tetapi mulai diterjemahkan menjadi solusi yang memanfaatkan potensi lokal.


USG Keliling: Layanan Kesehatan Mengikuti Jadwal Kapal

Jika WhatsApp Bot menjawab persoalan pemantauan, maka Pulau Morotai menghadirkan inovasi yang menjawab persoalan akses layanan kesehatan secara langsung.

Sebagai wilayah kepulauan terluar, Morotai menghadapi tantangan konektivitas antarwilayah. Transportasi laut yang tidak selalu memiliki jadwal tetap, ketergantungan terhadap kondisi cuaca, serta jarak yang jauh antar pusat pelayanan kesehatan menjadi tantangan tersendiri.

Namun kondisi tersebut justru mendorong lahirnya pendekatan adaptif melalui Program Gerakan Bumil Sehat.

Program ini menjangkau 50 ibu hamil yang tersebar di 13 puskesmas. Selain layanan pemeriksaan kehamilan terpadu yang mencakup pemeriksaan tekanan darah, status gizi, imunisasi TT dan konseling, Morotai juga menghadirkan layanan USG keliling yang diintegrasikan dengan jadwal kapal.

Model pelayanan ini menjadi contoh bagaimana sistem kesehatan harus bergerak mengikuti kondisi geografis masyarakat.

Bukan masyarakat yang selalu dipaksa datang ke pusat layanan, tetapi layanan kesehatan yang mendekat dan menyesuaikan diri dengan mobilitas masyarakat kepulauan.

Dalam tabel inovasi unggulan GERMAS, USG keliling terintegrasi jadwal kapal tersebut dicatat memiliki dampak berupa deteksi dini komplikasi ibu hamil di wilayah kepulauan dan dinilai memiliki potensi replikasi yang tinggi untuk konteks daerah kepulauan.


Anak Muda Turun Tangan Lawan Stunting

Inovasi GERMAS di Maluku Utara juga tidak hanya berbicara tentang teknologi.

Di Kota Tidore Kepulauan, anak muda dilibatkan sebagai bagian dari solusi melalui Satuan Karya Bakti Husada (SBH) Pramuka sebagai Duta Stunting.

Sebanyak 50 pengurus SBH terlatih dilibatkan dalam sosialisasi, pendampingan, pemantauan stunting, serta promosi perilaku hidup bersih dan sehat.

Pendekatan ini dilakukan melalui intervensi berlapis. Di sekolah, SBH terlibat dalam Aksi Bergizi yang menjangkau 450 siswa, termasuk sarapan bersama, senam pagi, konsumsi TTD bagi remaja putri dan edukasi gizi seimbang.

Di tingkat komunitas, mereka diterjunkan ke 20 posyandu untuk membantu kader melakukan pengukuran antropometri, pencatatan status gizi serta edukasi kepada keluarga.

Hasilnya cukup mencolok. Laporan mencatat kepatuhan konsumsi TTD mingguan siswi meningkat dari 32 persen menjadi 86 persen, atau naik 54 poin persentase.

Angka tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku tidak selalu harus dilakukan melalui pendekatan formal. Teman sebaya, figur muda dan komunitas dapat menjadi kekuatan penting dalam membangun budaya hidup sehat.


Kearifan Lokal Menjadi Bahasa Kesehatan

GERMAS di Maluku Utara juga memperlihatkan bahwa pesan kesehatan akan lebih mudah diterima ketika berbicara menggunakan bahasa dan identitas masyarakat sendiri.

Di Halmahera Timur, misalnya, dikembangkan slogan “Limabot Fayfiye” yang terdiri atas 14 pesan kesehatan. Pesan tersebut dikembangkan dalam konteks kearifan lokal dan bahkan telah dijadikan jingle daerah, sehingga memiliki daya ingat yang kuat bagi masyarakat.

Sementara itu, di Pulau Morotai, pendekatan kearifan lokal juga digunakan dalam pemicuan sanitasi melalui “Poka Poka”. Inovasi tersebut dalam laporan dikaitkan dengan penurunan diare balita sebesar 73 persen.

Hal ini memperlihatkan satu hal penting: GERMAS tidak harus memiliki satu wajah yang sama di seluruh wilayah.

Pesannya sama—hidup sehat—tetapi cara menyampaikannya dapat menyesuaikan budaya, bahasa, kondisi geografis dan karakter masyarakat setempat.


Dari Regulasi Menuju Inovasi

Berbagai inovasi tersebut tumbuh di atas fondasi kebijakan yang semakin kuat.

Laporan Pelaksanaan GERMAS mencatat bahwa kabupaten/kota di Maluku Utara telah memiliki regulasi yang menjadi landasan implementasi GERMAS. Regulasi tersebut antara lain berbentuk Peraturan Bupati, Peraturan Wali Kota maupun Instruksi Bupati.

Menariknya, sejumlah daerah tidak berhenti pada regulasi. Kebijakan tersebut diterjemahkan ke dalam strategi komunikasi, kelembagaan dan inovasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

Di Halmahera Utara, misalnya, dibentuk Lembaga Non-Struktural (LNS) GERMAS yang memiliki fungsi mengoordinasikan, memantau dan melaporkan implementasi GERMAS kepada Bupati dan Kementerian Dalam Negeri setiap enam bulan.

Model kelembagaan tersebut dinilai memberikan kesinambungan program karena tidak bergantung pada kepanitiaan yang bersifat sementara. Bahkan, laporan menyebutkan terdapat tiga kabupaten lain yang tertarik mereplikasi model tersebut.


GERMAS Maluku Utara: Dari Seremonial Menjadi Gerakan

Berbagai inovasi tersebut memperlihatkan bahwa GERMAS di Maluku Utara mulai bergerak dari pola kegiatan yang bersifat seremonial menuju pendekatan yang lebih adaptif, berbasis masyarakat, berbasis teknologi dan lintas sektor.

Laporan mencatat inovasi GERMAS di kabupaten/kota dapat dikelompokkan ke dalam empat tipologi, yaitu inovasi kelembagaan, produk/media komunikasi, layanan berbasis teknologi, dan integrasi kearifan lokal.

Pada saat yang sama, capaian GERMAS juga menunjukkan sejumlah perkembangan positif. Peningkatan pengetahuan gizi remaja tercatat mencapai 39 persen, melampaui target 35 persen. Cakupan Posyandu aktif mencapai 76 persen, sementara cakupan skrining ASN enam bulanan mencapai 85 persen.

Namun, pemerintah daerah masih menghadapi pekerjaan besar. Rata-rata implementasi enam pilar GERMAS tercatat 78 dari target 85, sementara capaian desa/kelurahan Open Defecation Free (ODF) baru 42 persen dari target 55 persen.

Artinya, inovasi harus terus diperluas dan diikuti penguatan koordinasi lintas sektor agar perubahan perilaku hidup sehat benar-benar menjadi budaya masyarakat.


Kepulauan Bukan Hambatan, tetapi Ruang untuk Berinovasi

Kondisi geografis Maluku Utara memang menghadirkan tantangan tersendiri bagi pembangunan kesehatan. Jarak antarpulau, transportasi laut, kondisi cuaca dan distribusi sumber daya kesehatan menuntut model pelayanan yang berbeda dengan daerah yang memiliki konektivitas darat yang lebih mudah.

Namun, pengalaman GERMAS 2025 menunjukkan bahwa keterbatasan tersebut dapat menjadi pemicu lahirnya inovasi.

WhatsApp Bot menjawab kebutuhan monitoring. USG keliling menjawab persoalan akses. Pangan lokal menjawab kebutuhan gizi sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. Pramuka menjawab kebutuhan kaderisasi anak muda. Sementara kearifan lokal menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan kesehatan.

Inilah wajah baru GERMAS Maluku Utara: bukan sekadar membawa program ke masyarakat, tetapi merancang program berdasarkan realitas kehidupan masyarakat.

Ke depan, tantangannya bukan lagi sekadar menciptakan inovasi, tetapi memastikan inovasi tersebut berkelanjutan, terukur dampaknya, terdokumentasi dengan baik dan dapat direplikasi di kabupaten/kota lainnya.

Sebab bagi Maluku Utara, pembangunan kesehatan tidak cukup hanya dengan membangun layanan.

Layanan harus mampu menyeberangi laut. Teknologi harus mampu menjangkau pulau. Pesan kesehatan harus mampu menembus budaya. Dan masyarakat harus menjadi penggerak utamanya.

GERMAS Maluku Utara: dari pulau ke pulau, dari inovasi ke perubahan, menuju masyarakat yang lebih sehat.