•Dr. Johannes Leimena
Bandung Plan 1951: Warisan Dr. Johannes Leimena yang Menjadi Fondasi Integrasi Layanan Primer Indonesia
Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan MasyarakatOleh Riskal Muslim • 28 Jul 2026
Di tengah berbagai upaya transformasi sistem kesehatan nasional, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan terus memperkuat Integrasi Layanan Primer (ILP) sebagai strategi utama membangun pelayanan kesehatan yang lebih dekat, lebih merata, dan lebih berorientasi pada pencegahan penyakit. Banyak yang menganggap ILP sebagai inovasi baru dalam reformasi kesehatan Indonesia. Padahal, jika menelusuri sejarah, gagasan tersebut telah dirintis lebih dari tujuh dekade silam oleh salah satu tokoh kesehatan terbesar bangsa, Dr. Johannes Leimena.
Jauh sebelum dunia mengenal konsep Primary Health Care melalui Deklarasi Alma-Ata tahun 1978, Indonesia telah memiliki sebuah pemikiran yang sangat progresif melalui Bandung Plan pada tahun 1951. Gagasan ini bukan hanya menjadi tonggak sejarah pembangunan kesehatan nasional, tetapi juga membuktikan bahwa Indonesia pernah menjadi pelopor dalam pengembangan pelayanan kesehatan masyarakat yang terintegrasi.
Ketika Rumah Sakit Tidak Lagi Menjadi Jawaban
Pada awal dekade 1950-an, kondisi kesehatan Indonesia masih didominasi pendekatan kuratif. Rumah sakit menjadi pusat pelayanan kesehatan, sementara masyarakat di pedesaan memiliki akses yang sangat terbatas. Pelayanan kesehatan lebih banyak diberikan setelah seseorang jatuh sakit, bukan sebelum penyakit muncul.
Sebagai Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Johannes Leimena melihat kelemahan mendasar dari sistem tersebut. Menurutnya, rumah sakit tidak akan pernah mampu menyelesaikan seluruh persoalan kesehatan masyarakat apabila pelayanan kesehatan hanya berpusat pada penyembuhan. Penyakit harus dicegah sebelum berkembang, masyarakat harus diedukasi sebelum mengalami komplikasi, dan pelayanan kesehatan harus hadir sedekat mungkin dengan kehidupan masyarakat.
Berangkat dari pemikiran tersebut, bersama Dr. Abdoel Patah, Leimena merancang Bandung Plan, sebuah konsep yang mengintegrasikan pelayanan kuratif, promotif, preventif, dan kesehatan lingkungan ke dalam satu sistem pelayanan yang saling terhubung.
Pada masa itu, gagasan tersebut tergolong revolusioner. Dunia kedokteran masih sangat berorientasi pada rumah sakit dan pelayanan spesialistik, sementara Leimena justru mengusulkan agar pusat pelayanan kesehatan dibangun di tengah masyarakat.
Dari Rumah Sakit Menuju Desa
Bandung Plan mengubah cara pandang mengenai pelayanan kesehatan. Rumah sakit tidak lagi diposisikan sebagai satu-satunya pusat pelayanan, melainkan menjadi bagian dari jaringan pelayanan yang dimulai dari tingkat desa.
Konsep tersebut merancang keberadaan rumah sakit kecil di tingkat kewedanan, poliklinik di kecamatan, serta tenaga kesehatan seperti dokter, bidan, perawat, dan petugas sanitasi yang bekerja secara terpadu. Pelayanan yang diberikan tidak hanya mengobati pasien, tetapi juga melakukan penyuluhan kesehatan, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kesehatan ibu dan anak, imunisasi, hingga pengendalian penyakit menular.
Pendekatan ini pada hakikatnya merupakan embrio dari konsep continuum of care yang saat ini menjadi dasar Integrasi Layanan Primer.
Lahirnya Cikal Bakal Puskesmas
Pemikiran Leimena kemudian berkembang menjadi fondasi lahirnya Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).
Sejak tahun 1952, konsep Patah-Leimena mulai diperkenalkan dalam pendidikan kedokteran Indonesia. Gagasan tersebut terus disempurnakan hingga akhirnya diadopsi dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional tahun 1968 sebagai model pelayanan kesehatan dasar.
Melalui perjalanan panjang tersebut, Indonesia membangun sistem Puskesmas yang kini menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan primer dengan ribuan fasilitas yang tersebar hingga pelosok negeri.
Dengan demikian, Puskesmas bukanlah sekadar institusi pelayanan kesehatan, melainkan manifestasi nyata dari visi besar Dr. Johannes Leimena tentang pelayanan kesehatan yang dekat dengan masyarakat.
ILP: Menghidupkan Kembali Semangat Bandung Plan
Hari ini, ketika Kementerian Kesehatan melaksanakan Transformasi Sistem Kesehatan melalui Integrasi Layanan Primer (ILP), sesungguhnya Indonesia sedang menghidupkan kembali semangat Bandung Plan.
ILP menggeser pelayanan kesehatan yang sebelumnya berbasis program menjadi pelayanan berdasarkan siklus hidup manusia. Seorang ibu hamil, bayi, balita, remaja, dewasa, hingga lansia memperoleh pelayanan kesehatan yang saling terintegrasi dalam satu sistem.
Pendekatan ini menghilangkan sekat-sekat antarprogram sehingga setiap kunjungan masyarakat ke fasilitas kesehatan menjadi kesempatan untuk memberikan pelayanan yang komprehensif.
Seorang ibu yang membawa anaknya imunisasi juga dapat diperiksa tekanan darahnya. Seorang lansia yang datang mengontrol hipertensi dapat memperoleh edukasi gizi sekaligus skrining diabetes. Pelayanan menjadi lebih efektif, efisien, dan berpusat pada kebutuhan masyarakat.
Semangat inilah yang sesungguhnya telah diperkenalkan Leimena sejak tahun 1951.
Relevansi Bandung Plan di Era Penyakit Tidak Menular
Tantangan kesehatan Indonesia saat ini telah berubah. Penyakit infeksi memang masih menjadi perhatian, tetapi beban terbesar kini berasal dari Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, stroke, dan kanker.
Sebagian besar PTM berkembang tanpa gejala sehingga banyak masyarakat baru mengetahui penyakitnya ketika telah terjadi komplikasi.
Dalam konteks inilah pemikiran Leimena menjadi semakin relevan.
Bandung Plan menempatkan pencegahan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan. Filosofi tersebut kini diwujudkan melalui skrining kesehatan rutin, deteksi dini faktor risiko, edukasi masyarakat, serta pemanfaatan data wilayah untuk mengidentifikasi kelompok berisiko.
Transformasi ILP memperkuat fungsi Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu, dan kader kesehatan sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan masyarakat sebelum penyakit berkembang menjadi lebih berat.
Dari Pelayanan Berbasis Fasilitas Menuju Pelayanan Berbasis Wilayah
Salah satu perubahan terbesar yang dibawa ILP adalah perubahan orientasi dari facility-based care menuju community-based care.
Petugas kesehatan tidak lagi sekadar menunggu pasien datang ke fasilitas pelayanan, tetapi secara aktif memetakan kondisi kesehatan masyarakat melalui Pemantauan Wilayah Setempat (PWS).
Pendekatan by name by address memungkinkan kelompok rentan, seperti ibu hamil risiko tinggi, balita stunting, penderita hipertensi, maupun pasien penyakit kronis lainnya, dapat diidentifikasi lebih awal sehingga intervensi dilakukan sebelum muncul komplikasi.
Model ini merupakan evolusi modern dari filosofi Bandung Plan yang menempatkan masyarakat sebagai pusat pelayanan kesehatan.
Leimena Conference: Merawat Warisan, Membangun Masa Depan
Penyelenggaraan Leimena Conference 2026 menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali warisan intelektual Dr. Johannes Leimena.
Konferensi ini bukan sekadar forum ilmiah, melainkan ruang kolaborasi antara pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat sipil, tenaga kesehatan, dan berbagai mitra pembangunan kesehatan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan berbasis bukti.
Melalui forum ini, Indonesia diingatkan bahwa transformasi layanan primer bukan sekadar agenda administratif, tetapi bagian dari perjalanan panjang bangsa dalam membangun sistem kesehatan yang adil dan berkeadilan.
Menatap Indonesia Emas 2045
Indonesia menargetkan menjadi negara maju pada tahun 2045. Target tersebut tidak hanya bergantung pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusianya.
Negara yang maju membutuhkan masyarakat yang sehat, produktif, dan mampu hidup lebih lama dalam kondisi sehat. Investasi terbesar menuju Indonesia Emas bukan hanya pembangunan rumah sakit modern atau teknologi kesehatan canggih, melainkan penguatan pelayanan kesehatan primer yang mampu mencegah penyakit sejak dini.
Lebih dari tujuh puluh tahun lalu, Dr. Johannes Leimena telah menunjukkan arah tersebut melalui Bandung Plan. Hari ini, Integrasi Layanan Primer menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk melanjutkan warisan itu dengan pendekatan yang lebih modern, berbasis data, memanfaatkan teknologi digital, dan diperkuat kolaborasi lintas sektor.
Bandung Plan bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah pengingat bahwa bangsa ini pernah menjadi pelopor pemikiran pelayanan kesehatan masyarakat yang visioner. Tugas generasi sekarang bukan menciptakan filosofi baru, melainkan menyempurnakan dan mengimplementasikan warisan tersebut agar mampu menjawab tantangan kesehatan abad ke-21.
Jika Indonesia berhasil membangun layanan kesehatan primer yang kuat, maka kita tidak hanya sedang memperbaiki sistem kesehatan, tetapi juga sedang membangun fondasi kokoh bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045—sebuah Indonesia yang sehat, produktif, berkeadilan, dan mampu bersaing di tingkat global.